Demam Berdarah Dengue: Problematika Interaksi Virus, Pejamu, dan Vektor

Demam Berdarah Dengue: Problematika Interaksi Virus, Pejamu, dan Vektor

Benediktus Yohan

Asisten Peneliti Senior di Unit Dengue Lembaga Eijkman

 

Setiap tahun, kedatangan musim hujan hampir selalu dibarengi dengan merebaknya berbagai penyakit infeksi, situasi sama kita alami di awal tahun 2019 ini. Salah satu penyakit infeksi yang seringkali mengancam adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue ini menjadi masalah serius bagi kesehatan global karena mempengaruhi sekitar 2,5 milyar penduduk dunia yang tinggal di daerah tropis dan subtropis. Data dari World Health Organization (WHO) mencatat sebanyak 50 – 100 juta infeksi terjadi di lebih dari 100 negara setiap tahunnya, dengan kecenderungan meningkat. Kondisi faktual di lapangan lebih mengkhawatirkan akibat banyaknya kejadian yang tidak dilaporkan. Diperkirakan bahwa beban global akibat dengue dapat mencapai lebih dari tiga (3) kali lipat data di atas dan menimbulkan kerugian signifikan bagi segi kesehatan maupun ekonomi. Kondisi tersebut diperparah dengan belum adanya obat antivirus, walaupun sudah ada vaksin dengue yang tersedia komersial dan beberapa kandidat vaksin lainnya sedang dalam tahap pengujian klinis.

Infeksi virus dengue melibatkan manusia sebagai pejamu (host) dan nyamuk sebagai pembawa/vektor dalam suatu siklus transmisi/penyebaran manusia – nyamuk – manusia. Interaksi yang terjadi antara virus dengue, pejamu, dan vektor terbukti sangat kompleks dan menimbulkan problematika dalam upaya pencegahan dan penanganannya. Setiap faktor berkontribusi terhadap sulitnya pemahaman menyeluruh terhadap penyakit ini selama kurang lebih 7 dekade ini. Dalam tulisan ini, diulas secara singkat kontribusi setiap faktor terhadap penyakit dan perkembangan terkini dalam upaya pencegahan dan penanggulangan DBD.

 

Virus dengue

Virus dengue terbagi menjadi empat jenis virus (dikenal sebagai serotipe), yaitu virus dengue serotipe-1 (DEN-1), DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Keempat serotipe virus tersebut menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan sehingga dapat pula disebut sebagai empat virus yang berbeda. Bahkan, ilmu taksonomi (ilmu penggolongan makhluk hidup) menggolongkan setiap serotipe sebagai spesies tersendiri. Virus dengue berukuran sekitar 50 nanometer (nm) dan terdiri dari komponen materi genetik/genom virus berupa asam ribonukleat (Ribonucleic Acid, RNA) untai tunggal sepanjang lebih kurang 10.700 basa nukleotida. Gigitan nyamuk memfasilitasi masuknya virus ke dalam sel pejamu. Virus kemudian membajak mekanisme sel pejamu untuk memperbanyak genom dan membentuk protein komponen penyusun virus baru. Virus yang telah dirakit kemudian dilepaskan ke sirkulasi darah dan potensial untuk disebarkan ke manusia lain.

Struktur virus dengue (sumber: Virus Pathogen Resource)

Keragaman virus dengue tampak jelas dengan keberadaan 4 serotipe berbeda. Namun, keragaman ini ternyata berlanjut pada tingkat genom dimana dalam setiap serotipe dapat diidentifikasi 4 – 6 varian genom yang dikenal sebagai subtipe atau genotipe. Keragaman genetik ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor. Salah satu faktor adalah sifat virus dengue yang sangat mudah bermutasi. Dianalogikan bahwa pada setiap satu proses penggandaan genom diproduksi satu kesalahan/mutasi. Keragaman genetik dan sifat virus yang selalu bermutasi membawa suatu permasalahan tersendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe tertentu memiliki laju transmisi yang lebih tinggi secara global dan dapat menggantikan keberadaan genotipe lain. Demikian pula beberapa genotipe diasosiasikan dengan manifestasi DBD berat sementara genotipe lain tampaknya hanya menyebabkan menifestasi ringan.

 

Faktor pejamu

Infeksi virus dengue pada sebagian besar kasus umumnya tidak menimbulkan gejala berarti. Namun, infeksi dapat pula berakibat pada timbulnya gejala klinis dengan spektrum luas dan dapat berbeda antar penderita. Gejala klinis berkisar dari gejala serupa flu ringan hingga manifestasi penyakit yang berat. Infeksi dengue berat menyebabkan kondisi klinis serius yang ditandai adanya perdarahan, kebocoran vaskuler mendadak, syok, disertai dengan penurunan jumlah trombosit secara drastis.

Kontribusi faktor pejamu terhadap perjalanan penyakit DBD terbukti sangat kompleks. Faktor yang berperan penting adalah status imunitas/kekebalan pejamu terhadap virus dengue. Infeksi oleh satu serotipe virus dengue menghasilkan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe tersebut. Namun, perlindungan tidak terbentuk secara sempurna untuk serotipe lainnya. Seseorang yang tinggal di daerah endemik dengue dapat terinfeksi lebih dari satu kali dengan serotipe berbeda. Penelitian menunjukkan bahwa infeksi lebih dari satu kali (infeksi sekunder) dengan virus dari serotipe berbeda dapat meningkatkan keparahan penyakit. Suatu hipotesis bernama Antibody-dependent Enhancement (ADE) telah diajukan untuk menjelaskan fenomena ini. Kekebalan yang dihasilkan akibat infeksi pertama kali (primer) oleh satu serotipe virus tidak sepenuhnya melindungi terhadap infeksi berikut oleh virus dari serotipe lain. Parahnya, kekebalan tidak sempurna ini justru meningkatkan perbanyakan virus pada sel target pejamu dan menyebabkan manifestasi penyakit yang lebih berat, akibat respons kekebalan tubuh pejamu yang berlebihan. Faktor pejamu lain yang berperan, antara lain: ras, usia, jenis kelamin, dan status nutrisi penderita.

 

Vektor

Penyakit DBD disebarkan nyamuk dari genus Aedes. Telah banyak diketahui bahwa vektor nyamuk utama dari DBD adalah Aedes aegypti. Namun, diketahui pula bahwa nyamuk A. albopictus juga berperan penting dalam penyebaran dengue. Nyamuk Aedes hidup di iklim hangat sehingga daerah tropis menjadi lokasi ideal untuk berbiak. Nyamuk ini sensitif terhadap kondisi iklim, seperti: suhu, curah hujan, dan kelembaban. Peningkatan suhu lingkungan menyebabkan perkembangan dan peredaran virus dalam tubuh nyamuk berlangsung lebih cepat. Hal ini menyebabkan nyamuk memiliki kesempatan lebih besar untuk menginfeksi manusia selama masa hidupnya. Peningkatan curah hujan memberikan kesempatan bagi nyamuk untuk berbiak seiring berlimpahnya tempat bertelur. Berkaitan dengan isu pemanasan global, kekhawatiran mulai dirasakan oleh daerah/negara yang sebelumnya tidak memiliki permasalahan DBD. Suhu yang meningkat menyebabkan daerah sebaran nyamuk meluas dan potensial untuk penyebaran virus ke masyarakat yang belum memiliki kekebalan. Akan tetapi, banyak faktor lain yang juga berperan dalam penyebaran nyamuk, antara lain: pertumbuhan penduduk, urbanisasi, kurangnya sanitasi, perjalanan jauh lewat transportasi udara, dan kontrol nyamuk yang tidak efektif. Sebelum ada vaksin yang efektif untuk DBD, satu-satunya pilihan dalam pencegahan DBD adalah pengendalian vektor untuk mengurangi populasi nyamuk ke tingkat yang tidak mendukung lagi penyebaran virus dan upaya protektif untuk menghindari gigitan nyamuk.

 

Nyamuk Aedes, vektor penyebar virus DBD (sumber: Wikipedia)

Pengembangan vaksin dan upaya pengendalian vektor

Kebutuhan akan vaksin menjadi pilihan yang tidak dapat ditawar lagi untuk pencegahan penyakit dengue. Beberapa kandidat vaksin sedang dalam tahap pengembangan dan pengujian klinis. Kandidat vaksin dari produsen farmasi Sanofi-Pasteur berada di lini paling depan dan telah selesai menjalani rangkaian uji klinis untuk dapat dipasarkan. Vaksin ini didesain untuk memberikan kekebalan terhadap keempat serotipe virus dengue (tetravalent). Hasil penelitian uji klinis fase IIb di Thailand menunjukkan bahwa vaksin ini memberikan perlindungan terhadap tiga dari empat serotipe virus dengue. Perlindungan tercipta untuk DEN-1, -3, dan -4, tetapi nampaknya tidak untuk DEN-2 yang dikenal paling ganas. Pengujian lebih lanjut dengan responden lebih besar dan melibatkan beberapa negara di Asia Tenggara dan Amerika Latin tengah berlangsung untuk memastikan hasil tersebut.

Pengendalian vektor untuk mengurangi populasi nyamuk menjadi suatu upaya penting pencegahan dengue. Namun, seringkali berbagai upaya pengendalian vektor tersebut kurang efektif seiring perubahan kondisi lingkungan dan situasi sosial masyarakat. Upaya pengendalian vektor menggunakan metode biologi menjadi salah satu alternatif yang sedang dikembangkan. Peneliti dari Universitas Queensland, Australia mengembangkan suatu bakteri Wolbachia yang dapat digunakan untuk menurunkan tingkat penyebaran virus dengue. Bakteri ini menyebabkan nyamuk lebih sulit terinfeksi virus sehingga tidak lagi dapat menyebarkan virus antar manusia. Introduksi bakteri ini pada nyamuk disebut tidak membahayakan lingkungan karena Wolbachia sendiri ada secara alami di alam dan tidak berbahaya bagi manusia.

 

Penyakit DBD yang disebabkan mikroorganisme virus dengue ternyata membawa ancaman yang sangat besar. Berbagai faktor yang berperan dan saling berinteraksi memberikan suatu permasalahan kompleks dalam penanganannya. Upaya pencegahan menjadi kunci dalam pertarungan manusia melawan DBD. Tersedianya vaksin dan pengendalian vektor nyamuk yang efektif menjadi benteng pertahanan manusia untuk siap menghadapinya.

 

Daftar Acuan

Centers for Disease Control and Prevention. Dengue. Updated January 24, 2014.

Gubler DJ, Kuno G (Eds). 1997. Dengue and dengue hemorrhagic fever. New York: CAB International.

Halstead SB (Ed). 2010. Dengue. 1st Ed. London: Imperial College Press.

Simmons CP, Farrar JJ, Nguyen vV, Wills B. Dengue. 2012. New Eng J Med 366(15):1423-32.

World Health Organization. Dengue and severe dengue. Fact sheet 117. Updated March 2014

 

Current rating: 3.5