Search
X

Jan. 14, 2020

Bank Sel Punca dan Masa Depan Pengobatan

Tyas Arum Widayati

Research Assistant

Unit Sel Punca


Dewasa ini, definisi bank tidak melulu berkaitan dengan hal-hal berbau finansial. Berbagai macam bank seperti bank darah, bank data, atau bank genetik sudah mulai akrab di telinga masyarakat. Peneliti dan klinisi di berbagai belahan dunia pun tak habis ide untuk membuat bank lain yang diharapkan dapat menjadi solusi atas masalah di bidang kesehatan, yaitu bank sel punca.

Gagasan pembuatan bank sel punca didasari oleh berbagai penelitian yang mengungkap potensi sel punca untuk berubah menjadi berbagai macam sel tubuh. Sel punca pun dapat digunakan dalam pengobatan terapi dan menjadi model untuk meneliti mekanisme terjadinya penyakit serta respon individu terhadap suatu obat. Hal ini dipandang dapat membantu pengembangan sistem pengobatan terpersonalisasi di kemudian hari.

‘Menabung’ di Bank Sel Punca 

Seperti bank pada umumnya, bank sel punca juga memiliki ‘jenis tabungan’ yang berbeda: sel punca dewasa dan pluripoten. Layanan yang telah ada umumnya melayani penyimpanan sel punca dewasa (sel punca darah, jaringan mesenkimal). Sementara itu penyimpanan sel punca pluripoten hasil induksi (induced pluripotent stem cell/iPSC), yang merupakan sel dengan karakteristik seperti sel punca embrionik, sedang mulai dikembangkan. Pengembangan iPSC ini dilakukan terkait dengan potensinya yang lebih beragam dibandingkan dengan sel punca dewasa. Salah satu bank iPSC yang telah didirikan yaitu European Bank for induced Pluripotent Stem Cells (EBiSC).

Pasien dan individu normal dapat ‘menabung’ di bank sel punca dewasa dengan mendonorkan sampel berupa darah atau jaringan, sedangkan untuk mengoleksi iPSC hanya dibutuhkan satu jenis sel saja. Sel yang diambil akan diprogram kembali menjadi iPSC dan dapat diinduksi menjadi sel lain seperti sel darah, kulit, saraf, hingga sel jantung sehingga tidak diperlukan lagi proses pengambilan sampel secara berulang.

Hingga saat ini, sumber sel yang dinilai baik dan tidak invasif untuk pengoleksian iPSC adalah sel CD34+ atau sel punca darah dari darah perifer. Takashi Okumura dan koleganya, dalam jurnal Stem Cell Research and Theraphy, pada tahun 2019 ini telah menciptakan metode baru untuk memprogram sel CD34+ menggunakan virus Sendai yang telah dimodifikasi dan diberi nama SeVdp-302L. Virus ini berfungsi sebagai vektor yang membawa bahan-bahan yang diperlukan untuk memprogram ulang sel dewasa. Metode ini terbukti dapat mengubah sel dewasa menjadi sel punca dalam waktu yang relatif cepat, praktis, efisien, dan tidak invasif terhadap pasien.

Pada penelitian tersebut, darah perifer diambil dari pasien yang mengidap penyakit seperti lupus, imunodefisiensi primer, dan diabetes. Sel darah kemudian dikembalikan menjadi iPSC dalam waktu 5-6 minggu. Setelah itu, dilakukan berbagai macam validasi untuk memastikan bahwa sel yang terbentuk sesuai dengan yang diharapkan. Penelitian tersebut telah berhasil memproduksi 223 lini sel iPSC dari 15 pasien yang memiliki 8 penyakit berbeda. Beberapa sel yang dihasilkan bahkan telah digunakan lebih lanjut dalam pemodelan penyakit.

Metode keluaran dari penelitian tersebut menjadi salah satu titik terang untuk mempermudah pelaksanaan koleksi iPSC dari berbagai populasi dan penyakit. Saat ini Unit Sel Punca – Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mulai berfokus untuk melakukan penelitian terkait iPSC sebagai model penyakit, khususnya penyakit genetik seperti talasemia. Di masa depan, diharapkan Indonesia dapat memiliki bank iPSC untuk meneliti lebih jauh tentang keberagaman penyakit lain dan pengobatannya. Namun, siapkah kita untuk ‘menabung’ di bank iPSC?