Search
X

Jan. 16, 2020

Bersatu atau Punah, Unifikasi Dua Subspesies Badak Sumatera Sebagai Strategi Konservasi

Sinta Hamidatus Saidah

Research Assistant

Unit Keragaman Genom dan Penyakit

Pada tanggal 25 November 2019, dunia konservasi berduka dengan kematian Iman, badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis harrisoni) terakhir di Malaysia. Kematian Iman menjadikan badak sumatera hanya tersisa di Indonesia saja. Badak sumatera merupakan salah satu spesies endemik yang terancam punah. Penurunan populasi badak sumatera tidak dapat dihindari karena ancaman deforestasi, fragmentasi habitat, serta perburuan masih belum dapat dihentikan. Aksi konservasi untuk spesies ini menjadi sangat penting untuk diimplementasikan agar ancaman kepunahan dapat dihindari.

Pada tahun 2013, pertemuan antar lima negara yang memiliki populasi alami badak – Bhutan, India, Indonesia, Malaysia, dan Nepal – menghasilkan suatu keputusan yang disebut dengan Deklarasi Bandar Lampung. Deklarasi ini mengharapkan peningkatan populasi badak asia sebesar 3% per tahun sampai tahun 2020.

Salah satu program yang dicanangkan ialah menyatukan badak sumatera di Pulau Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis) serta badak sumatera di Pulau Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrisoni) dalam satu unit evolusi sehingga diperkenankan untuk dikawinkan guna meningkatkan populasi generasi selanjutnya. Namun, program ini dikhawatirkan akan menghilangkan keanekaragaman genetik antara dua subspesies badak sumatera tersebut sehingga menyebabkan tekanan outbreeding (penurunan pertahanan hidup karena perkawinan dengan jarak genetik yang cukup jauh) dan kehilangan kemampuan adaptasi lokal.

Peneliti dari Universitas Illinois – Urbana-Champaign (UIUC) Amerika Serikat mempublikasikan hasil penelitian mereka pada tahun 2018, dalam melihat struktur genetika diantara subspesies badak sumatera dengan menggunakan marka mitokondria dan mikrosatelit. Hasil penelitian tersebut menunjukan jika berdasarkan marka mitokondria, spesies badak sumatera terdiri dari tiga subspesies (sumatrensis di Pulau Sumatera, harrisoni di Pulau Kalimantan, dan lasiotis (telah punah) disemenanjung malaysia) dengan genetik yang berbeda.

Berdasarkan marka mikrosatelit, badak sumatera yang berhabitat di Pulau Sumatera juga memiliki perbedaan genetik antara badak yang berada di bagian utara dengan di bagian selatan Pulau Sumatera. Hasil tersebut mengindikasikan potensi tekanan outbreeding akan terjadi jika penyatuan unit evolusi dilakukan terhadap kedua subspesies badak tersebut.

Akan tetapi pada penelitian lain, survei populasi badak sumatera telah dilakukan untuk menghitung individu yang tersisa di alam liar. Terdapat 15 individu badak sumatera di Pulau Kalimantan dan kurang dari 100 individu di Pulau Sumatera. Hasil survei ini menunjukan tingkat urgensi penyatuan kedua subspesies badak sumatera ini lebih besar dibandingkan tetap membedakannya kedalam dua unit. Melihat hasil kedua survei tersebut, akhirnya peneliti menganjurkan untuk menjadikan kedua subspesies tersebut menjadi satu unit dan melakukan program perkawinan badak di penangkaran. Hal tersebut disebabkan karena peneliti menilai resiko kepunahan badak sumatera lebih mendesak dibandingkan dengan resiko outbreeding yang akan terjadi.