Search
X

Jan. 3, 2020

Bersemayam Dalam Hidung, Streptococcus pneumoniae Berbahayakah?


Yayah Winarti

Research Assistant

Unit Bakteriologi Molekuler

Manusia merupakan bagian dari alam semesta yang kaya. Tubuh manusia diciptakan Tuhan dengan seperangkat alat yang membuatnya mampu untuk bertahan hidup di tengah interaksi dan kompetisi dengan makhluk hidup lain. Salah satu makhluk hidup yang berinteraksi erat dengan manusia diantaranya adalah bakteri. Bakteri merupakan makhluk hidup sel tunggal yang dapat ditemukan dalam tubuh manusia sebagai flora normal, yakni keberadaannya menetap pada bagian tubuh tertentu tanpa menimbulkan gejala apapun. Beberapa bakteri dibutuhkan kehadirannya untuk keberlangsungan metabolisme dalam tubuh, contohnya seperti bakteri asam laktat yang berperan penting dalam proses pencernaan makanan. Namun ada pula bakteri patogen yang kehadirannya bersifat merugikan karena dapat menyebabkan terjadinya penyakit.

 

Sebuah studi dilakukan oleh Unit Bakteriologi Molekuler Lembaga Eijkman untuk mengetahui bakteri bawaan (carriage) pada nasofaring (saluran hidung bagian dalam) manusia. Penelitian tersebut menemukan bahwa pada nasofaring anak-anak sehat ditemukan bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri ini merupakan bakteri patogen penyebab penyakit radang paru-paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis), otitis media akut (congek) dan infeksi pembuluh darah (bakterimia), yang secara alamiah hidup pada saluran hidung bagian dalam manusia tanpa menimbulkan gejala apapun. Dalam kondisi imunitas yang baik, bakteri S. pneumoniae akan dibersihkan oleh sistem imun tubuh. Namun, pada seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, bakteri ini akan terus menerus berkolonisasi sehingga menyebabkan terjadinya infeksi dan timbul penyakit. Oleh karena itu, kelompok yang paling berisiko terinfeksi bakteri S. pneumoniae ialah orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti anak di bawah usia 5 tahun, lansia, dan penderita respon imun rendah (immunocompromised)

 

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Lembaga Eijkman di Indonesia, sebanyak 46,1% dari 1200 anak sehat usia di bawah 5 tahun di Lombok, Nusa Tenggara Barat, diketahui membawa bakteri S. pneumoniae pada nasofaring mereka. Jenis (serotipe) S. pneumoniae yang paling banyak ditemukan adalah serotipe 6A/6B, 9F, 23F, 15B/15C, 19A, dan 14. Sedangkan pada anak-anak sehat Suku Bajo, di Wakatobi diketahui jumlah anak sehat yang membawa bakteri S. pneumoniae lebih tinggi yaitu 60%. Di daerah Sumba Barat Daya dan Gunung Kidul, prevalensinya masing-masing sebesar 84,5% dan 31,2%. Penelitian mengenai bakteri bawaan (carriage) S. pneumoniae ini masih terus berlangsung. Diharapkan data prevalensi dan persebaran serotipe S. pneumoniae yang diperoleh dapat menambah data kekayaan keanekaragaman hayati di Indonesia serta menjadi masukan bagi pemerintah untuk pencanangan program wajib vaksin pneumokokus.

 

Pneumonia

Streptococcus pneumoniae merupakan penyebab utama terjadinya kasus pneumonia berat pada anak di berbagai belahan dunia. Dilansir dari WHO, terdapat lebih dari 800.000 anak balita meninggal akibat pneumonia. Di Indonesia, sebanyak 19.000 anak balita dilaporkan meninggal akibat terjangkit pneumonia pada tahun 2018. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2018, dilaporkan 2 dari 100 (2,1%) anak usia di bawah 5 tahun mengalami pneumonia.

 

Pneumonia merupakan penyakit infeksi dimana bagian alveolus (kantong-kantong udara) dalam paru-paru dipenuhi oleh nanah dan cairan yang menyebabkan penderita mengalami kesulitan untuk bernafas. Kondisi ini menyebabkan pasokan oksigen ke dalam tubuh berkurang, sehingga dapat menyebabkan terjadinya kematian. Penderita pneumonia akan menunjukkan gejala yang beragam tergantung pada usia dan penyebab infeksinya. Namun pada umumnya, penderita akan mengalami nafas cepat atau sesak nafas, batuk, demam, menggigil, sakit kepala, dan kehilangan nafsu makan. Pneumonia berat pada anak dibawah usia 5 tahun ditandai dengan kesulitan bernafas disertai penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam. Sementara bayi dengan pneumonia berat dapat mengalami kejang, ketidaksadaran, hipotermia, lesu, dan masalah nafsu makan. Adapun faktor resiko yang dapat meningkatkan terjadinya pneumonia adalah pajanan polusi, asap rokok, gizi buruk, imunisasi dasar yang tidak lengkap, dan kondisi tempat tinggal yang padat dan kotor.  

 

Vaksin Sebagai Upaya Pencegahan

Salah satu upaya pencegahan infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae ialah melalui  pemberian vaksin. Saat ini telah tersedia dua jenis vaksin yang tersedia yaitu Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) dan Pneumococcal Polysaccharide Vaccine (PPV). Vaksin PCV13 mengandung 13  serotipe S. pneumoniae yaitu 1, 3, 4, 5, 6A, 6B, 7F, 9V, 14, 18C, 19A, 19F, dan 23F. Vaksin PCV13 diberikan sebanyak 4 kali untuk bayi usia kurang dari 2 tahun, yaitu pada saat usia bayi 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, serta antara 12-15 bulan. Pada anak sehat usia 2-4 tahun yang belum mendapat vaksin PCV lengkap perlu mendapat satu kali vaksin. Sedangkan pada lansia berusia lebih dari 65 tahun, vaksin yang diberikan ialah PPV. Pemberian vaksin ini cukup satu kali untuk memberikan perlindungan seumur hidup.   

 

Jadi, selama sistem kekebalan tubuh kita baik maka keberadaan bakteri Streptococcus pneumoniae pada nasofaring dianggap tidak berbahaya. Namun, pemberian vaksin terutama pada anak balita sangat penting untuk dilakukan sebagai upaya pencegahan sebelum bakteri tersebut menginvasi ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit yang parah.