Search
X

Jan. 10, 2020

Tekad Memutus Warisan Ibu


Muhammad Rezki Rasyak

Research Assistant

Unit Hepatitis


Apa jadinya jika warisan justru merugikan orang yang diwarisi. Bukan untung malah buntung. Penyakit yang diteruskan dari orang tua ke keturunannya merupakan warisan yang merugikan. Hepatitis B adalah salah satu dari warisan yang merugikan. 

Virus hepatitis B lebih mudah menular dibanding virus HIV/AIDS. Di Indonesia penularan Hepatitis B terbesar yaitu dari ibu terhadap bayi yang dilahirkannya. Presentasi penularan hepatitis B dari ibu terhadap bayi mencapai 95%.

Sedemikian besarnya proporsi penularan ini, sehingga sejak tahun 2015, deteksi dini Hepatitis B pada ibu hamil telah di buka di pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas) dan jaringannya. Semua wanita hamil wajib melakukan uji Hepatitis B untuk mencegah penularan infeksi. Hasil uji positif akan dirujuk ke dokter spesialis untuk evaluasi lebih lanjut.

Perhatian besar ini sebanding dengan dampak infeksi Hepatitis B yang menyumbang 780.000 kematian setiap tahunnya. Indonesia termasuk salah satu negara di Asia dengan endemisitas menengah ke tinggi infeksi Hepatitis B.

Lalu bagaimanakah sebenarnya virus hepatitis B ini menular dari ibu ke anak ?.

Kajian Yi P (2016) dan tim yang dimuat di Journal of Clinical Virology menjelaskan jenis penularan Hepatitis B dari ibu ke bayi dapat melalui beberapa cara: yaitu transmisi seluler melalui sel plasenta dan bercampurnya sel darah ibu dengan sel darah janin, penularan yang terjadi saat persalinan, dan penularan saat nifas atau kontak dengan ASI ibu.

Keadaan ibu yang terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala hepatitis B membuat seorang ibu memilih untuk tidak memeriksakan keadaan tubuhnya. Namun ada satu catatan penting yang kurang disadari, fase Hepatitis ibu yang berada pada tahap imunotoleran (IT) sama sekali tidak memperlihatkan kejanggalan, alias penampakan fisik dari ibu masih terlihat normal, bagian ini yang kemudian membuat seorang ibu kurang menaruh perhatian pada kadar HBsAg positif mereka dan menyebabkan penularan Hepatitis B ke bayi.  Data-data tersebut menjadi beban cukup berat untuk pemerintah.

Sadar akan adanya potensi generasi masa depan menjadi reservoir penularan Hepatitis B, pemerintah secara serius telah memulai pencegahan penularan penyakit Hepatitis B. Perintis pencegahan penularan dimulai sejak tahun 1991 dengan program yang sponsori oleh WHO untuk vaksinasi bayi baru lahir. Bukan hanya itu, sejak tahun 1992 sampai tahun 1994, palang merah indonesia (PMI) menyisir persediaan darah untuk mengantisipasi adanya kantung darah yang teridentifikasi Hepatitis B

Lebih dari itu, pada tahun 1997 indonesia bahkan menjadikan program vaksinasi Hepatitis B sebagai program nasional dan diintensifkan pada tahun 1999. Implementasi program ini dilakukan mulai dari pulau besar  bertahap ke pulau-pulau kecil. Hasil dari program vaksinasi Hepatitis B kini telah terlihat pada data RISKESDAS kementerian kesehatan. Indonesia bergerak dari prevalensi HBsAg 9,4% pada tahun 2007 menjadi 7,1% pada tahun 2013, sekaligus membuat Indonesia bergerak dari endemisitas tinggi ke endemisitas sedang untuk hepatitis B.

Kendati telah berhasil menggeser posisi dari endemisitas tinggi ke rendah, penelitian penting tahun 2009 menemukan bahwa prevalensi HBsAg pada perempuan melahirkan di beberapa daerah masih sangat jelas terlihat. Di jakarta prevalensi HBsAg tercatat sebesar 2,2%, berkurang lebih dari separuhnya dibanding tahun 1985 sebesar 5,2%.

Studi lain tahun 2014 memaparkan prevalensi untuk daerah Makassar adalah sebesar 6,8%, sedangkan daerah lain 4,7% di Jawa Barat, 1,9% di Bali, dan 3,4% di Mataram. Fakta ini perlu mendapat perhatian karena terjadi pada ibu hamil yang dapat langsung menurunkan hepatitis B ke anak.

Penyempurnaan data dari waktu ke waktu juga sangat diperlukan untuk mengetahui prevalensi Hepatitis B dari tahun ke tahun. Sekaligus sebagai pengingat kepada pemerintah untuk memberi perhatian lebih terhadap daerah dengan prevalensi yang tinggi.

Terlepas dari hal tersebut kendala besar tetap dihadapi dalam pengumpulan informasi tentang prevalensi Hepatitis B. Beberapa kendala tersebut berupa kemungkinan besar status dari penderita yang tidak dilaporkan apakah kondisi akut atau kronis. Kendala geografis yang mengharuskan menjangkau 250 juta penduduk yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau, serta keterbatasan fasilitas pengujian untuk pendeteksian HBV kronis, yang mengarah pada besarnya populasi yang belum dilaporkan. 

Strategi preventif dan kontrol yang efektif harus dikembangkan agar sesuai kapasitas lokal, infrastruktur, sosial ekonomi, dan budaya, serta aspek geografis daerah tersebut. Pemerintah bersama dengan semua lembaga dan stake holder terkait termasuk asosiasi profesional, aktivis sosial, juga media komunikasi harus berjalan bergandengan demi terciptanya indonesia bebas Hepatitis B.