Search
X

Feb. 12, 2020

LBM Eijkman mengadakan Seminar Awam "Menyikapi Virus Corona 2019-nCoV: Dari Lembaga Eijkman untuk Indonesia"

JAKARTA, 12 Februari 2020 – Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Jakarta, menyelenggarakan Seminar Awam yang bertajuk “Menyikapi Virus Corona 2019-nCoV: Dari Lembaga Eijkman untuk Indonesia”. Seminar awam ini diselenggarakan di Auditorium Sitoplasma LBM Eijkman mulai pukul 11.30 hingga 16.00 WIB. Mengisi seminar adalah para pakar di bidang biologi molekuler, virologi, mikrobiologi dan zoonosis, serta pakar jurnalisme kebencanaan.

Menyebarnya virus Corona 2019-nCoV (yang sekarang telah memiliki nama resmi WHO COVID-19) dari China ke seluruh dunia telah menjadikan patogen ini menjadi Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Hingga saat ini, lebih dari 43 ribu kasus dan lebih dari 1000 kematian telah terjadi di 28 negara. Indonesia sendiri telah menetapkan status Siaga 1 terhadap virus ini. Berbagai pemberitaan terkait virus COVID-19 menyebar secara cepat seiring perkembangan penularan virus yang semula dari hewan ke manusia (bersifat zoonosis) dan telah berubah menjadi dari manusia ke manusia. Namun demikian, krisis yang diakibatkan virus COVID-19 tidak hanya berupa kesakitan dan kematian, tetapi juga hal yang tak kalah berbahaya yaitu krisis komunikasi risiko, berupa berita simpang-siur, hoaks, hingga timbulnya kepanikan massa.

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, sebagai lembaga penelitian di bawah Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia, memiliki tanggung jawab moral dan ilmiah untuk memberikan  pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat awam tentang merebaknya virus COVID-19. Diadakannya seminar awam ini diharapkan dapat memberikan informasi, meningkatkan pemahaman serta meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan masyarakat umum terhadap penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus COVID-19. Selain itu, kontribusi terhadap Indonesia diwujudnyatakan dengan kesiapan LBM Eijkman mengungkap fakta infeksi dan masukan ilmiah kepada pemerintah pemangku kepentingan sebagai antisipasi apabila terjadi pandemi virus COVID-19 dan bagaimana penanganannya.

Ahmad Arif, Jurnalis Senior Kompas dan pakar jurnalisme kebencanaan, menekankan pentingnya komunikasi risiko yang memadukan unsur kecepatan dan akurasi dimana transparansi informasi menjadi kunci dalam membangun komunikasi risiko yang baik. Pendekatan sains yang didasarkan pada sikap skeptis dan independen harus jadi dasar bagi komunikasi risiko ini. Tanpa dasar sains, komunikasi risiko akan memicu ketidakpercayaan, kebingungan, bahkan bencana.

Para pakar virologi dan mikrobiologi dari LBM Eijkman memberikan sumbangsih berupa paparan awam mengenai virus COVID-19. Prof. Amin Soebandrio, yang juga adalah Kepala LBM Eijkman, mengulas mengenai penularan dan penyebaran virus ini. Di kesempatan lain, Peneliti Senior LBM Eijkman, Prof. David H. Muljono mengupas bagaimana virus ini menginfeksi dari sisi telaah molekuler. Di tengah berkembangnya sikap skeptis apakah Indonesia mampu melakukan deteksi virus COVID-19, Peneliti LBM Eijkman Frilasita Aisyah Yudhaputri, M.BiomedSc. mencoba menjawab pertanyaan mampukah kita mengenali virus in secara molekuler.

Frilasita menjabarkan bahwa melalui pendekatan biologi molekuler, LBM Eijkman telah memiliki kapasitas dan kemampuan dalam mendeteksi secara sensitif dan spesifik keberadaan virus COVID-19 dalam sampel klinis. Metode yang digunakan adalah kombinasi Teknik PCR dan sequencing dengan menggunakan gen RNA-dependent RNA Polymerase (RdRP) virus sebagai penanda identifikasi. Dalam penanganan virus Corona, LBM Eijkman mempunyai fasilitas laboratorium tersertifikasi untuk menangani patogen risiko tinggi (laboratorium Biosafety Level (BSL)-2 dan -3). Kemampuan ini juga didukung fasilitas alat Next-Generation Sequencing dan analisis bioinformatika yang telah diakui secara internasional. Dengan demikian, LBM Eijkman dapat berperan secara strategis sebagai laboratorium yang langsung memeriksa sampel klinis dari pasien terduga atau menjadi laboratorium pembanding/konfirmasi.

Kemampuan di atas didukung oleh pengalaman panjang yang dimiliki oleh LBM Eijkman dalam menangani penyakit infeksi yang baru timbul. Pengalaman tersebut diantaranya adalah:

  1. Identifikasi, isolasi dan kajian molekuler Flu Burung (H5N1) (tahun 2005)
  2. Identifikasi, isolasi, dan karakterisasi molekuler virus West-Nile (pertama dan satu-satunya di Indonesia, tahun 2012)
  3. Identifikasi, isolasi dan kajian molekuler virus Zika (pertama dan satu-satunya di Indonesia, tahun 2015)
  4. Bantuan penanganan kasus kejadian luar biasa (KLB) tifoid dan leptospirosis di Jeneponto tahun 2019.
  5. Identifikasi mikroba pada populasi pemburu, pedagang dan konsumen satwa liar di Tomohon Sulawesi Utara yang berhasil mendeteksi keberadaan virus Corona di manusia.

Fasilitas, reagensia dan pengalaman yang sama dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus COVID-19 dalam sampel pasien terduga. Saat ini semua fasilitas, reagensia, dan sistem telah dioptimasi untuk mendeteksi virus COVID-19.

Pembahasan lain yang tidak kalah pentingnya dikemukakan oleh Dr. Drh. Joko Pamungkas, Msc., Peneliti senior dari Pusat Studi Satwa Primata Institut Pertaninan Bogor (PSSP-IPB), yang kerap melakukan kajian-kajian ilmiah penyebaran virus di hewan yang berpotensi menularkan pada manusia. Dalam seminar ini, Dr. Joko membagi pengalamannya memeriksa keberadaan virus di sampel kelelawar dan rodensia di Pulau Sulawesi. Selain itu, beliau memaparkan mengenai pentingnya surveilens Betacoronavirus pada hewan reservoir sebagai bentuk antisipasi pencegahan penyakit yang baru timbul di Indonesia.

Melalui seminar ini, diharapkan dapat terbentuk suatu sistem manajemen kelola risiko infeksi virus COVID-19 yang baik di Indonesia.

Tautan eksternal:

Tautan untuk bahan narasumber: http://bit.ly/EijkmanUntukIndonesia

Tautan untuk seminar offline melalui YouTube: https://youtu.be/xtPUvKwKIBc